Abis Berantem sama Ibu Terus Didiemin, Harus Gimana
9 Oktober 2026 · Rani Puspita
Ditulis oleh tim editorial Sojiwa dengan bantuan AI. Bukan saran medis.
Kamu baru berantem sama ibumu, dan sekarang dia nggak ngajak kamu bicara. Ditanya dijawab singkat, atau malah nggak dijawab sama sekali, dan seisi rumah jadi terasa pengap.
Yang bikin berat bukan cuma pertengkaran tadi. Justru diamnya yang bikin kamu muter-muter mikir: salahku sebesar apa sih, sampai segini? Perlu minta maaf lagi nggak, atau nanti malah kelihatan ngejar-ngejar?
Kenapa diamnya terasa lebih menyakitkan daripada pertengkarannya
Saat berantem, kamu setidaknya tahu apa yang sedang terjadi. Ada suara, ada kata-kata, ada arah. Begitu pintu ditutup dan obrolan berhenti, otakmu nggak ikut berhenti. Dia malah sibuk nebak-nebak.
Coba bayangkan kamu lagi nitip barang ke titipan paket. Kalau petugasnya bilang "tunggu ya, saya cek dulu," kamu bisa duduk santai. Tapi kalau dia cuma ngeliatin kamu lalu pergi tanpa satu kata pun, kamu bakal berdiri di situ, bingung mau nunggu atau pulang. Diam tanpa penjelasan meninggalkan orang di ruang tunggu yang nggak ada kursinya.
Penelitian yang dimuat di Frontiers in Psychology menyebut diam semacam ini sebagai salah satu bentuk pengucilan dalam hubungan dekat, dan efeknya bisa bikin kesejahteraan emosional turun, apalagi kalau nggak disusul obrolan yang sehat (cnnindonesia.com).
Tapi penting juga buat kamu tahu: nggak semua diam itu hukuman. Ada orang yang memang kewalahan secara emosional dan butuh jeda sebelum bisa ngomong baik-baik. Dalam psikologi hubungan, kondisi itu sering dikaitkan dengan flooding, keadaan saat seseorang terlalu terbebani perasaannya sampai sulit berpikir dan bicara (idntimes.com). Ibumu bisa jadi sedang di titik itu.
Cara bedain yang mana, tanpa harus nanya terus
Kamu nggak perlu memutuskan sekarang apakah diamnya ibumu "jahat" atau "cuma butuh waktu". Kamu cuma perlu lihat polanya dalam beberapa hari ke depan.
Kalau ibumu butuh waktu, biasanya setelah beberapa jam atau beberapa hari dia kembali membahas masalahnya. Mungkin bukan dengan kata "maaf", tapi dengan manggil kamu buat makan, atau nanya hal kecil yang artinya dia sudah balik.
Kalau diamnya berulang tanpa penjelasan, kamu diminta terus menebak-nebak, dan tiap kali kamu coba ngomong malah makin tertutup, itu tanda yang perlu kamu catat buat dirimu sendiri. Bukan buat menghakimi, tapi supaya kamu tahu ini bukan soal kamu kurang sabar.
Yang paling gampang dilakukan justru nggak ngapa-ngapain dulu
Dorongan pertama biasanya mau buru-buru menyelesaikan. Kita chat panjang, minta maaf berkali-kali, atau ikut diam sebagai balasan. Dua-duanya jarang berhasil.
Menurut penjelasan psikolog Anna dalam artikel yang sama, butuh sekitar 20 menit agar tubuh kembali tenang setelah emosi memuncak, dan selama waktu itu sebaiknya kamu nggak terus mengulang adegan pertengkaran di kepala (idntimes.com). Fokus saja ke hal fisik: genggam gelas, rasakan dinginnya, jalan ke halaman belakang, cuci muka.
Kalau nanti kamu sudah cukup tenang dan mau membuka obrolan, satu kalimat saja sudah cukup. Sesuatu seperti, "Aku tahu kita sama-sama masih kesel. Aku nggak maksa sekarang, tapi aku pengin kita ngomongin nanti kalau sudah lebih tenang." Kalimat ini nggak menyalahkan siapa-siapa dan tetap menunjukkan kamu peduli. Menghindari "kamu memang selalu begini" penting, karena kalimat menuduh bikin orang makin menutup diri.
Batas waktu itu perlu, biar diamnya nggak jadi nggak ada ujungnya
Jeda yang sehat tetap butuh batas. Diam dua jam jelas beda dengan diam dua minggu tanpa kepastian. Kamu boleh menyebut batas itu dengan sederhana, misalnya, "Aku kasih ruang, tapi aku berharap kita tetap bicara soal ini."
Yang perlu kamu hindari adalah ikut mendiamkan ibumu sebagai balasan. Dua orang yang sama-sama menutup pintu nggak bikin masalahnya selesai, cuma bikin rumah tambah sunyi (idntimes.com).
Kalau pola diamnya terus berulang, berlangsung lama, atau sampai bikin kamu takut menyampaikan pendapat di rumah sendiri, mencari bantuan pihak ketiga bukan hal berlebihan. Bisa konselor keluarga atau orang dewasa lain yang kamu percaya.
Coba Ini Hari Ini
Hari ini, coba tulis satu kalimat tentang pertengkaran itu. Bukan buat dikirim ke ibumu, cuma buat membereskan isi kepalamu sendiri.
Apa satu hal yang aku harap ibuku tahu soal perasaanku, tapi belum pernah aku bilang?
Menulis memaksa pikiran yang muter-muter jadi kalimat yang bisa dibaca. Begitu ada bentuknya, kamu bisa melihat mana yang benar-benar soal masalah tadi, mana yang cuma kecemasanmu sendiri.
Setelah nulis, biar kepalamu lebih tenang
Kamu bisa menempelkan kalimat itu di Sojiwa, pilih mood yang paling mendekati perasaanmu sekarang, lalu kalau dalam beberapa hari kamu sudah menulis di tiga hari berbeda, ketuk "Analyse journals". Sojiwa akan membaca catatanmu dari minggu itu dan mengirim sebuah laporan singkat, termasuk "What I noticed" yang mengutip kata-katamu sendiri dan melihat apakah saran minggu sebelumnya sempat kamu jalani. Kadang yang kamu butuhkan bukan solusi baru, tapi melihat polanya dari luar.
Ditulis oleh
Rani Puspita · Penulis Kesejahteraan Diri
Rani menulis untuk tim editorial Sojiwa tentang perasaan sehari-hari, journaling, dan cara pelan-pelan merasa lebih ringan.
Lanjut membaca
Siap mulai jurnalmu sendiri?
Beberapa menit yang jujur setiap hari, ditemani refleksi AI yang lembut. Hanya itu yang Sojiwa minta darimu.
Dapatkan aplikasi