Kecemasan & Stres · Journaling
Ciri-Ciri Stres Menjelang Ujian yang Sering Nggak Disadari
Tanda stres ujian, sinyal dari tubuh yang sering kelewat, kenapa pengen menyendiri juga termasuk, dan kapan perlu ke dokter.
Ditulis oleh tim editorial Sojiwa dengan bantuan AI. Bukan saran medis.

Jawaban singkat: Stres ujian bisa muncul sebagai cemas terus-terusan, gampang kesal, susah fokus, dan tidur berantakan. Tubuh juga ikut kasih tanda: sakit kepala, sakit perut, gigi bergemeletuk, gigit kuku, napas cepat, sampai menarik diri dari orang lain. Kalau cemas atau sedihnya berat, nggak hilang setelah ujian, atau mengganggu keseharian, periksakan diri ke dokter.
Di artikel ini
Apa aja sih ciri-ciri stres menjelang ujian? Terus, yang kamu rasain sekarang termasuk stres atau bukan? Stres ujian biasanya kelihatan dari rasa cemas, gampang kesal, dan susah fokus. Tapi tanda-tandanya juga muncul di tubuh dan kebiasaan sehari-hari. Sering kali tanda ini datang duluan, bahkan sebelum kamu sadar lagi stres.
Tanda stres ujian di tubuh yang sering nggak kerasa
NHS, layanan kesehatan nasional Inggris, punya daftar tanda stres pada pelajar dan mahasiswa. Banyak orang nggak pernah nyambungin tanda-tanda ini sama ujian. Contohnya gigit kuku, ngelupas-ngelupas kulit, gigi bergemeletuk, dan napas jadi cepat atau rasanya sesak. Di panduan untuk orang tua, NHS juga menyebut sakit kepala, sakit perut, dan makan jauh lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya.
Kebiasaan ini jalan diam-diam. Jadi jangan cuma tanya ke diri sendiri "aku lagi stres nggak, ya?" Coba cari buktinya:
- rahang pegal atau gigi ngilu waktu bangun tidur
- kulit di sekitar kuku sampai lecet karena dikelupas pas belajar
- makan siang kelewat padahal kamu nggak niat skip, atau ngemil terus tanpa sadar kapan mulainya
- napas pendek-pendek di dada waktu buka soal latihan
Pagi hari juga bisa jadi petunjuk. Ada studi tahun 2020 yang mengikuti mahasiswa selama satu semester. Mereka dicek lewat HP, alat ukur tekanan darah, dan sampel air liur. Hasilnya, kadar kortisol (hormon stres) saat bangun tidur lebih tinggi di masa ujian dibanding awal semester. Jadi kalau kamu bangun udah deg-degan, padahal belum mikirin satu mata kuliah pun, itu salah satu bentuk stres.
Pengen menyendiri terus, fokus atau stres?
Di masa ujian, mahasiswa yang sama jadi lebih jarang ketemu orang dan lebih pengen sendirian. Mereka juga merasa kurang tenang dan kurang pegang kendali.
Suasana sepi memang bisa bantu belajar. Yang perlu dilihat adalah alasannya. Pergi ke perpus sendirian biar bisa konsentrasi, itu namanya strategi. Lain cerita kalau chat dari teman kamu biarin nggak dibaca karena bales aja rasanya kayak beban tambahan. Itu tanda stresnya udah merembet ke luar urusan ujian.
Coba ingat lagi, terakhir kali ada yang nanya "gimana belajarnya?" Apa reaksi pertamamu pengen menghindar? Kalau iya, perhatikan itu. Menurut NHS, ngobrolin tugas dan ujian dengan orang tua, dosen, atau teman belajar bikin kita bisa melihat masalahnya lebih proporsional. Kalau kamu menarik diri, justru bantuan itu yang hilang.
Tanda paling penting: yang masih ada setelah ujian selesai
Banyak stres ujian yang punya tanggal kedaluwarsa. NHS mencatat banyak anak muda merasa jauh lebih baik begitu ujian selesai. Tapi nggak semuanya.
Makanya, hari-hari setelah ujian terakhir bisa jadi waktu buat ngecek diri. Kalau sakit kepala reda dan nafsu makan balik dalam beberapa hari, berarti stresnya memang karena ujian. Tapi kalau suasana hati tetap murung, kamu nggak tertarik lagi sama hal yang dulu kamu suka, atau merasa nggak ada harapan soal masa depan, mungkin ada hal lain di luar ujian.
Periksakan diri ke dokter kalau rasa cemas atau sedihmu berat, nggak kunjung hilang, atau mengganggu kegiatan sehari-hari, baik ujiannya udah selesai atau belum. Kalau suatu saat kamu merasa nggak bisa menjaga dirimu tetap aman, segera hubungi layanan bantuan krisis atau layanan darurat.
Coba Ini Hari Ini
Sebelum sesi belajar berikutnya atau sebelum masuk ruang ujian, luangkan sepuluh menit buat nulis apa persisnya yang bikin kamu cemas. Tulis aja ngalir, nggak usah diedit.
Apa yang aku takutin bakal terjadi di ujian ini, dan bagian mana yang paling berat buatku?
Dua psikolog, Gerardo Ramirez dan Sian Beilock, melakukan beberapa eksperimen yang terbit di jurnal Science. Mereka menemukan bahwa siswa yang menuliskan kecemasannya tepat sebelum tes penting dapat nilai lebih baik dibanding yang nggak menulis. Siswa yang biasanya paling cemas justru paling banyak terbantu. Menurut mereka, rasa cemas makan "ruang" di kepala yang kamu butuhin buat ngerjain soal. Dengan menuliskannya, sebagian ruang itu jadi lega lagi.
Beri tempat istirahat untuk kekhawatiran hari ini
Tuliskan di Sojiwa dan dapatkan refleksi AI yang lembut saat kamu siap.
Kalau kamu udah punya catatan jurnal di Sojiwa dari beberapa hari yang berbeda, ketuk "Analisis jurnal" ("Analyse journals"). Kamu bakal dapat refleksi singkat untuk minggu itu, lengkap dengan kutipan kata-katamu sendiri dari hari ke hari. Fitur ini butuh beberapa token. Dari situ kamu bisa lihat apakah sakit kepala atau keinginan buat sembunyi muncul menjelang ujian tertentu, lalu mereda setelah ujian itu lewat.


